Tuesday, August 5, 2014

Pengalaman belajar di Korea Selatan

Saya bersyukur mendapatkan kesempatan untuk belajar ke Korea Selatan segera setelah menyelesaikan pendidikan spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik di Surabaya. Pengalaman belajar dan tinggal satu tahun di Korea Selatan merupakan pengalaman yang tak ternilai dan menyenangkan. Tempat saya belajar adalah rumah sakit Bundang milik Seoul National University yang terletak di kota Seongnam, di sisi selatan Seoul.
RS Bundang Seoul National University
Seoul national university memiliki 3 rumah sakit; Seoul main hospital, Bundang dan Buramae. RS Bundang merupakan rumah sakit paling baru yang dibangun pada tahun 2003. Disini saya banyak bertemu dengan teman2 dari negara2 asia lainnya yang sedang melakukan fellowship, mereka berasal dari Thailand, Myanmar, Filipina, Malaysia, Turki, Nepal, Cina dan Singapura. Sungguh menyenangkan bisa belajar di sebuah negara yang maju, karena selain bisa belajar ilmu dan keterampilan terkini dengan fasilitas yang sangat memadai, wawasan dan pengetahuan kita juga secara otomatis akan akan semakin terbuka tentang dunia saat ini. 
Bersama guru2
Budaya Korea selatan yang menarik selain K-pop dan fashionnya adalah kebiasaan masyarakatnya yang selalu ingin bekerja dengan cepat, atau istilah lokalnya "pali-pali". Mungkin ini yang menyebabkan negara ini bisa berubah dari negara miskin yang hancur karena perang saudara (perang korea), menjadi salah satu negara maju di dunia hanya dalam waktu 50 tahun.
Memang saat ini korea selatan, atau Seoul khususnya sedang menjadi rujukan bedah plastik estetik dunia. Hal ini terlihat dari banyaknya klinik dan iklan bedah plastik yang bertebaran di tempat2 umum di Seoul. Hal ini mungkin disebabkan oleh demand yang tinggi akibat pengaruh budaya K-pop yang sudah mendunia, kemajuan pesat teknologi Korea sendiri dan tuntutan dari budaya lokal, dimana pria dan wanita dituntut untuk selalu memperindah diri dalam berinteraksi didalam masyarakat dan berkarier. Tempat yang paling terkenal sebagai pusat klinik bedah plastik adalah upgujeong di daerah gangnam, disini klinik dapat terletak saling bersebelahan, bahkan bisa didapati dalam satu gedung yang sama.
4 musim di korea
Selain hal2 diatas, pengalaman melalui 4 musim di Korea juga mejadi hal yang sangat menyenangkan (atau bisa disebut sebagai menantang), karena selama di sana saya merasa musim panas dan dinginnya cukup ekstrim untuk ukuran masyarakat tropis seperti di indonesia (-20°C s/d 33°C). Walaupun begitu musim gugur dan musim semi adalah saat terindah dimana tanaman dan suhu dalam kondisi puncaknya untuk dinikmati. Selama musim gugur suhu yang mulai dingin dihiasi dengan dedaunan yang didominasi warna oranye kemerahan, sedangkan saat musim semi ketika suhu mulai menghangat, pepohonan mulai dihiasi oleh bunga2 yang berwarna-warni. Pengalaman berburu makanan indonesia juga menjadi hal yang seru yang tidak terlupakan, apabila kangen masakan tanah air maka kita harus pergi ke daerah itaewon di dekat masjid Seoul atau ke daerah Ansan, kearah barat dari seoul. Kalau dari pengalaman, menurut saya Ansan memiliki jumlah restauran indonesia yang paling banyak dengan rasa yang cukup autentik (restauran yang saya datangi memiliki koki asal jogja ^^).
Memang Korea adalah negara maju yang indah dan ramah masyarakatnya, tetapi bagaimanapun tidak dapat dipungkiri kalau kita akan selalu ingin kembali pulang ke pangkuan ibu pertiwi yang lebih indah, ramah dan sudah pasti enak masakannya.

Rhinoplasty (merubah/memperbaiki bentuk hidung)


       Hidung merupakan "center of interest" pada wajah, suatu organ eksternal menonjol yang memiliki peran penting dalam mempengaruhi harmoni wajah (Selain fungsi utamanya sebagai organ pernafasan dan penciuman). Secara umum hidung mancung dianggap sebagai yang paling ideal dan indah, tetapi sesungguhnya mancung saja tidaklah cukup. Bentuk yang ideal sebaiknya disesuaikan dengan karakter wajah dan warna kulit, yang dalam kata lain disesuaikan dengan karakter etnis. Sering kita dengan mudah dapat mengidentifikasi hasil operasi rhinoplasty dengan memperhatikan seseorang yang tidak dikenal akibat bentuk mancungnya yang berlebihan atau "berlebihan" tidak sesuai dengan karakter etnisnya (wajah oriental atau melayu tetapi dengan karakter hidung kaukasia/ barat). 
   Ethnic Plastic Surgery menekankan karakter individu/etnis sebagai dasar pertimbangan awal perbaikan/perubahan pada bedah plastik estetik maupun rekonstruksi, sehingga hasil yang didapat menjadi menarik, harmonis dan natural.
     Rhinoplasty berasal dari bahasa Yunani, rhis (hidung) dan plassien (membentuk) yang berarti "membentuk hidung".Tujuan prosedur operasi ini adalah untuk memperbaiki struktur dan fungsi hidung, baik ke bentuk normal sebelumnya (semisal, perubahan bentuk atau gangguan fungsi akibat kecelakaan), atau membuatnya menjadi lebih baik/ideal sehingga lebih menarik dan harmonis dengan wajah. Perubahan dapat dilakukan melalui metode operatif atau non-operatif. Operatif dilakukan dengan melakukan sayatan kulit dan atau mukosa hidung untuk masuk "kedalam" bagian dalam hidung, kemudian dilakukan selanjutnya dilakukan manipulasi bentuk, baik dengan tulang rawan (berasal dari hidung, telinga, atau tulang dada sendiri) atau silikon padat.

material yang sering digunakan untuk memperindah bentuk hidung, tulang rawan dan silikon padat.
   Teknik operatif pun dapat dibagi lagi, menjadi teknik terbuka dan tertutup. Tertutup disini mempunyai arti sayatan hanya dilakukan didalam hidung sehingga tidak tampak dari luar. Sedangkan teknik terbuka sayatan dilakukan diluar, walaupun begitu hasilnya tersamar pada posisi yang tidak mudah terlihat. Untuk merubah bentuk hidung dapat juga dilakukan melalui metode non-operatif dengan memanfaatkan biological filler, walaupun menurut pendapat saya pribadi hasil yang didapat tidak dapat seoptimal teknik operatif.

ilustrasi metode manipulasi bentuk hidung 
letak sayatan pada operasi rhinoplasty terbuka atau tertutup
                                         
Beberapa tempat untuk mendapatkan informasi tambahan mengenai rhinoplasty (dalam bahasa inggris).

Thursday, May 15, 2014

Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik

Berawal dari keinginan untuk mengembalikan kepercayaan diri dari kecacatan, ilmu bedah plastik mulai dikembangkan. Sushruta mengawalinya dengan memperbaiki hidung yang dipancung akibat hukuman dengan memanfaatkan kulit dari dahi, Gaspare Tagliacozi juga melakukan rekonstruksi hidung dengan menggunakan kulit dari lengan atas. Sir Harold Gillies yang dikenal sebagai bapak bedah plastik modern telah banyak mengembangkan teknik2 baru saat menangani tentara korban perang dunia satu.

Sushruta
Sir Harold Gillies
Plastik berasal dari bahasa yunani; πλαστική (τέχνη), plastikē (tekhnē), yang berarti "seni membentuk" (jaringan). Sebenarnya lingkup bedah plastik tidak hanya pada "membentuk" jaringan saja, tetapi juga melakukan perbaikan fungsinya seperti pada kasus bedah tangan, bedah kraniofasial, dan kelainan saluran kemih luar (hypospadia). Secara garis besar, bedah plastik dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu bedah plastik rekonstruksi dan bedah plastik estetik. Pada bedah rekonstruksi dilakukan perbaikan dari kondisi sakit atau "dibawah normal" menjadi lebih baik mendekati normal. Sedangkan bedah estetik melakukan peningkatan penampilan dari kondisi normal menjadi "super normal", melebihi kondisi normal (sebelumnya) sehingga lebih menarik.

Bedah plastik rekonstruksi dapat dijabarkan menjadi;
1. Bedah mikro: banyak melakukan tindakan dengan bantuan mikroskop untuk menyambung jaringan2 yang sangat kecil, seperti pembuluh darah, pembuluh limfa dan syaraf. Bidang ini sering melakukan penutupan luka yang dalam dengan memindahkan kulit dari tempat lain dan menyambung pembuluh darahnya di tempat yang baru (free flap), dan juga melakukan penyambungan jari atau tangan yang terputus akibat kecelakaan.
2. Bedah tangan: perbaikan fungsi dan penutupan luka pada area tangan, baik akibat kelainan sejak lahir, kecelakaan, luka bakar, ataupun tumor.
3. Luka bakar: menangani penderita luka bakar sejak kondisi gawat (awal kejadian), selama perawatan menuju kesembuhan, dan rekonstruksi akhir setelah sembuh, seperti tarikan parut luka (kontaktur) dan bentuk parut yang kurang baik.
4. Bedah kraniofasial: menangani kelainan yang berkaitan dengan tulang dan jaringan lunak (kulit, otot, dll) wajah. Bidang ini mengkhususkan diri dalam memperbaiki kelainan wajah akibat cacat lahir (bibir sumbing), kecelakaan (patah tulang wajah) atau kerusakan akibat tumor.
5. Bidang luka (wound): Mempelajari dan menangani luka secara intensif, dari mekanisme dasarnya sampai dengan penanganan kasus sulit dan metode penutupannya.
6. Bedah plastik general: bidang yang masih belum dapat dikategorikan secara khusus, seperti: penanganan lymphedema (kaki gajah), tumor jinak kulit, penggunaan laser untuk parut luka, tumor pembuluh darah jaringan permukaan dan lain-lain.

Sedangkan bedah plastik kosmetik dapat dijabarkan secara umum menjadi:
1. facial: dimana perbaikan dikhususkan pada area wajah, contohnya adalah:
  • blepharoplasty (membentuk lipatan mata atau mengurangi kantung mata bawah), secara luas dapat dijabarkan sebagai perbaikan area sekitar mata melalui operasi pada kelopak mata.
  • rhinoplasty: memperbaiki hidung dengan membuatnya menjadi lebih menarik (memancungkan, membuang "hump" (hidung betet)/ gundukan, mengecilkan cuping hidung).
  • orthognatic: memperbaiki tulang wajah agar menjadi lebih baik, seperti membuat wajah menjadi lebih "V" dengan memperbaiki sebagian bentuk rahang, mengatur bentuk rahang pada dagu "cakil", menajamkan dagu)
  • lifting: menarik kulit wajah-leher untuk memperbaiki efek penuaan (aging) sehingga menjadi lebih tampak muda (kencang).
  • hair replantation: penanaman rambut
2. Body: perbaikan pada area tubuh, ekstrimitas tangan dan kaki.
  • body sclupturing: memperbaiki bentuk tubuh yang biasanya dengan cara mengurangi kelebihan lemak atau kulit pada area tertentu. Tindakannya beragam tetapi yang paling sering dilakukan adalah liposuction.
  • abdominoplasty: memperbaiki kontur perut dengan membuang kelebihan lemak-kulit dan mengencangkan kembali otot perut depan. Hal ini sering terjadi pada wanita pasca kehamilan akibat pelebaran otot perut depan (diastasis) dan kelebihan kulit akibat peregangan.
  • mammoplasty: perbaikan pada bentuk payudara, dapat dengan memperbesar atau mengurangi ukurannya, atau memperbaiki bentuknya agar lebih menarik. 


rekonstruksi wajah oleh Sir Harold Gillies saat perang dunia satu dan transplantasi wajah era modern menggunakan wajah orang lain.

Masih banyak jenis tindakan rekonstruksi dan estetik lainnya yang belum disebutkan disini, hal ini dikarenakan luas dan pesatnya perkembangan keilmuan bedah plastik pada era modern ini. Teknik dan teknologi selalu berkembang seiring dengan perkembangan jaman dan inovasi. Dapat dibayangkan dahulu saat Sir Harold Gillies berjuang menggunakan jaringan kulit dan otot sekitar wajah (flap) untuk memperbaiki kerusakan wajah korban perang dunia satu, dan saat ini manusia sudah mampu melakukan transplantasi wajah (memindahkan wajah orang lain ke wajah penderita yang membutuhkan) untuk memperbaiki kerusakan wajah jauh lebih kompleks. 
Syndactyly

Berasal dari bahasa yunani yang berarti "jari yang bergabung". Bentuk jari2 tangan seperti ini wajar ditemui pada beberapa jenis binatang, tetapi hal ini merupakan kelainan kongenital (kelainan pada masa pertumbuhan janin) apabila terjadi di manusia.

gambaran syndactyly pada jari kaki dan tangan pada manusia
Kelainan ini dapat terjadi pada jari2 tangan maupun kaki. Dapat muncul tunggal atau disertai beberapa kelainan kongenital lainnya sehingga disebut sebagai sindroma (kumpulan gejala), contoh sindroma dengan kelainan syndactyly adalah; sindroma apert, dimana terjadi kelainan syndactyly dan craniosynostosis (kelainan penutupan tulang rawan kepala yang lebih cepat melebihi normal), dan sindroma poland, dimana didapatkan kelainan pertumbuhan otot dada yang menyertai syndactyly.

salah satu metode pemisahan jari syndactyly. beragam cara dapat digunakan, tetapi prinsip dasarnya dalah pemisahan jaringan lunak dan atau tulang, dengan memanfaatkan sebisa mungkin kulit yang ada
 Syndactyly terjadi ketika jari gagal terpisah pada saat masa perkembangan janin, akibatnya dua atau lebih, atau bahkan seluruh jari lahir dalam bentuk menyatu. Kelainan akan mengakibatkan gangguan fungsi tangan dan tentunya penampilan. Gangguan fungsi disini sangat berarti dikarenakan kelainan terjadi saat masa pertumbuhan, yang mana dapat mengganggu pertumbuhan tulang dan perkembangan motorik halus jari2 sang anak. Untuk mencegah dan meminimalkan kecacatan perlu dilakukan penanganan yang tepat waktu dan metode. Pada dasarnya, prinsip penanganan adalah memisahkan jari2 yang menyatu secepat mungkin dengan harapan seluruh tahapan akan selesai sebelum anak memasuki usia sekolah. Pada kondisi khusus seperti syndactyly pada jari jempol dan telunjuk atau kelingking dan jari manis, pemisahan sebisa mungkin dilakukan secepatnya (6 bulan-1 tahun), hal ini disebabkan perbedaan panjang jari yang signifikan sehingga dapat mengganggu pertumbuhan jari yg lebih pendek.

Thursday, February 7, 2013

Basic Skill of Plastic Surgical Course 2013





The development of technology and information in the medical field has advanced very fast, especially the technology and information about wound management.
A lot of researches, methods and the accessibility of information about wound has made the society being more critical.

The expectation of wound management result is not only limited to healing, but more into the comfort, easiness, and aesthetics aspects.

Inevitably, this higher demand must be balanced with a proper basic knowledge,- regarding both acute and chronic wounds,- which is possessed by medical experts.

Answering this need, the Department of SMF Plastic Surgery FK UNAIR/RSUD dr. Soetomo is planning to conduct Basic Skill of Plastic Surgical Course. The goal of this event is to give an opportunity for the participants to advance their knowledge, basic skills regarding wound management and treatment, and also basic skill of plastic surgery such as suturing techniques and  flap.

Wednesday, January 30, 2013

Basic Skill of Wound Management 2013




Pada saat ini, manajemen perawatan luka telah mengalami perkembangan yang sangat pesat terutama dalam dua dekade terakhir ini. Teknologi dalam bidang kesehatan juga memberikan kontribusi yang besar untuk menunjang manajemen perawatan luka tersebut. Di samping itu, isu terkini yang terkait dengan manajemen perawatan luka berkaitan pula dengan perubahan profil pasien, dimana pasien dengan kondisi penyakit degeneratif dan kelainan metabolik semakin banyak ditemukan. Kondisi tersebut biasanya sering menyertai suatu kekompleksan suatu luka dimana perawatan yang tepat diperlukan agar proses penyembuhan bisa tercapai dengan optimal.

Dengan demikian tenaga kesehatan dituntut untuk mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang adekuat terkait dengan proses perawatan luka yang dimulai dari pengkajian yang komprehensif, perencanaan intervensi yang tepat, implementasi tindakan, evaluasi hasil yang ditemukan serta dokumentasi hasil yang sistematis. Manajemen perawatan luka modern juga sangat mengedepankan isu tersebut. Hal ini ditunjang dengan semakin banyaknya inovasi terbaru dalam perkembangan produk-produk perawatan luka yang bisa dipakai dalam manajemen perawatan luka.

Departemen / SMF Bedah Plastik dan Rekonstruksi RSUD Dr. Soetomo  menyelenggarakan Pelatihan “Basic Skill of Wound Management” periode yang pertama.

Dengan pengajar :

1.    Prof. M. Sjaifuddin Noer, dr., Sp.B., SpBP-RE (K)
2.    Prof. Dr. David S Perdanakusuma, dr., SpBP-RE (K)
3.    Iswinarno Doso Saputro, dr., SpBP-RE (K)
4.    Agus Santoso Budi, dr., SpBP-RE (K)
5.    Sitti Rizaliyana, dr., SpBP-RE (K)
6.    Magda R Hutagalung, dr., SpBP-RE (K)
7.    Lobredia Zarasade, dr., SpBP-RE (K)
8.    Beta Subakti Nata'atmaja, dr., Sp.BP-RE
9.    Vicky Sumarki Budipramana, dr., Sp.B.KBD
10.   Tomy Lesmana, dr., Sp.B.KBD
11.   Fendy Matulata, dr., Sp.B,Sp.BA
12.   Endang Larasati, SST
13.   Laila Mainur, Amd.Kep
14.   Sri Suciati, SST
15.   Erfandi Ekaputra, S.Kep. NS.ETN

Untuk periode yang kedua akan dilaksanakan lagi pada Bulan Mei 2013



Sambutan oleh Ka. SMF Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik RSUD Dr. Soetomo

Penutupan oleh Bidang Diklat RSUD Dr. Soetomo drg. Poetri Oetari

Pemberian materi oleh Prof. Dr. David S P, dr., SpBP-RE(K)

Peserta terbaik diraih oleh Yohanna dari RS. PHC Surabaya

Para peserta dan pemberi materi pelatihan

 Para Peserta di Ruang Perawatan Luka Bakar

 Para peserta pelatihan wound

Praktek langsung di Ruang Perawatan

Praktek langsung di Ruang Perawatan

Thursday, December 27, 2012

Luka Bakar



Sekilas Tentang Luka Bakar

 

        Luka bakar merupakan suatu trauma yang cukup sering ditemui dalam kehidupan sehari2 kita, dari yang hanya akibat berjemur terlalu lama (sunburn), terkena percikan minyak goreng, terkena air panas, sampai dengan luka bakar luas akibat kebakaran rumah atau ledakan kompor. Dalam masyarakat awam banyak kebiasaan2 sederhana untuk mengobati luka bakar ringan, seperti mengoleskan odol, kecap dan cairan2 lainnya. Mungkin hal2 tersebut dilakukan dengan asumsi seperti odol akan “mendinginkan” kulit yg kepanasan dsb, perlu diketahui bahwa sebenarnya penanganan luka bakar tidaklah sesederhana itu. Disini akan dibahas tentang luka bakar secara sederhana.

          Luka bakar merupakan kerusakan kulit dan jaringan lainnya akibat panas (kerusakan akibat listrik dan bahan kimia juga dimasukkan dalam golongan luka bakar). Kulit sebagai jaringan terluar dan terluas di tubuh manusia mempunyai fungsi sebagai pelindung dari ancaman dunia luar (kuman dll) dan beberapa fungsi lainnya yg lebih kompleks seperti membantu tubuh dalam pengaturan keseimbangan cairan dan suhu tubuh, pembentukan vitamin D, dan masih banyak lagi.
       Selain terganggunya fungsi2 tersebut, kerusakan tiap jaringan (termasuk kulit) akan menyebabkan peradangan yang akan menambah keparahan luka bakar. Peradangan akan menyebabkan bengkak (edema) akibat perpindahan cairan dalam pembuluh darah ke ruang2 antara sel disekitarnya. Semakin luas luka bakar maka akan semakin banyak cairan yg berpindah dan akibatnya isi pembuluh darah semakin sedikit dan dapat menyebabkan syok. Selain dari luas permukaan tubuh, keparahan luka bakar juga dipengaruhi oleh hal2 dibawah ini:
  1.  Dalamnya kulit yang rusak, semakin dalam maka semakin lama sembuhnya. Karena semakin banyak jaringan kulit yang rusak. Luka bakar akibat berjemur adalah bentuk yang paling ringan, karena kerusakan yang terjadi sangatlah tipis dan tidak membutuhkan perawatan luka seperti luka bakar pada umumnya.
  2.  Umur penderita, semakin muda atau tua maka semakin tidak optimal kondisi tubuhnya dalam menghadapi beban trauma luka bakarnya. Organ2 tubuh banyak yg masih belum matang atau justru sudah terlalu tua.
  3. Bila mempunyai kelainan penyakit lain diluar luka bakarnya, seperti kencing manis, darah tinggi, dan lain2. Tidak jarang luka bakar juga diikuti oleh trauma lainnya, seperti patah tulang, perdarahan, dan lain2. Hal2 tersebut menyebabkan penurunan fungsi organ2 dan tambahan beban trauma.
  4. Apabila disertai peradangan jalan nafas (saluran pernafasan dari mulut-hidung sampai dengan paru2) akibat panas atau asap.
  5.  Penyebab luka bakarnya, karena luka akibat listrik dan kimia mempunyai mekanisme kerusakan jaringan yang berbeda dengan panas api atau air panas, sehingga penanganannya berbeda dan perlu perhatian khusus.
  6. Lokasi luka bakar ditubuh; wajah, tangan dan kaki (telapak), persendian dan kelamin. Walaupun kecil lokasi luka bakar ternyata mempunyai efek yang signifikan bila tidak ditangani secara benar, karena jaringan parut saat luka tersebut sembuh dapat mengganggu fungsi atau penampilan bila hasilnya jelek.
          Jadi dalam luka bakar ada batasan2 kapan harus dirawat dirumah sakit, kapan cukup rawat jalan ke dokter atau kapan cukup dirawat sendiri dirumah. Batasan yang paling sederhana adalah ketika luas luka bakarnya sudah cukup luas (minimal 10% luas permukaan tubuh anak2 atau 15% dewasa) atau terdapat kondisi2 khusus seperti diatas, maka sudah seharusnya penderita ditangani dirumah sakit. Cara menghitung luas luka bakar dapat dilakukan secara sederhana menggunakan telapak tangan panderita sebagai ukuran 1% (Rule of palm). Untuk luka bakar yang sederhana (ringan) dapat kita tangani sendiri dengan cara;
  1. Singkirkan sumber panas yg masih menempel di penderita, misalnya baju yg masih terbakar atau basah karena air panas.
  2. Lepas perhiasan disekitar luka bakar, karena jeratan perhiasan akan memperburuk keadaan bengkak.
  3.  Dapat dikurangi efek panas dengan diberi air mengalir pada kulit yang terbakar. Jangan diberi air dingin atau es, karena efek dingin pada kulit juga dapat merusak.
  4. Dapat diberikan obat anti nyeri (analgesik) seperti parasetamol atau asam mefenamat, untuk mengurangi nyeri yg terjadi.
  5. Luka dibersihkan dengan cairan steril, seperti NaCL 0,9% cairan fisiologis (infus) dan kemudian luka dilapisi tulle (kassa steril berparafin). Sebelum ditutup kasa steril dapat diolesi salep silversulfadiazine.
  6. Luka yang sudah terbungkus kemudian dapat dibuka dan dirawat kembali setiap 3-5 hari.
Harus disadari bahwa luka bakar kecil sering tampak tidak berbahaya dan cenderung diabaikan, tetapi lokasi luka dan cara merawatnya apabila salah dapat menimbulkan masalah yg lebih serius. Semoga sekilas tentang luka bakar ini dapat memberikan informasi yg bermanfaat.

Beta Subakti N, dr.